Tampilkan postingan dengan label me. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label me. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Mei 2014

PERJALANAN INI SANGAT MELELAHKAN, BIMBING AKU.....

Bismillah

Hari ini Senin 19 Mei 204

Setelah sekian lama memendam seluruh isi kepala, memendam seluruh rasa, biarkan ia mengendap di dalam dada saja.
Ya , mengendap, bukan menguap bersama nafas menuju udara atas.
Ketika semua rasa tak terurai, rasa tersebut tak jelas seperti apa, apakah pahit, apakah manis, apakah asin, atau asam.
Jawabnya tidak tahu....
Tetapi bukan juga rasa tersebut adalah hambar.
Memperhatikan orang orang yang kehilangan, kehilangan apapun, sebesar atau sekecil sekalipun, maka marah menjadi hal pertama yang dirasakan,
Pada saat itu semua rasa menjadi satu, tak tentu
Tak terasa
Tak mengerti....
Akhirnya rasa itu pun menjadi lemah...Akhirnya setelah lelah dengan perjuangan yang dahsyat
Perjuangan untuk memahami tentang apa yang terjadi
Diripun berkata : ok, biarkan semua terjadi....
Aku cuma ingin ada di sudut ini
Bukan..Bukan untuk meratapi
Sama sekali bukan
Hanya ingin menikmati rasa ini.....
Entah rasa ini apa
Tetapi , biarkan aku sendiri......
Memandangi kilasan kilasan kejadian
Kilasan kilasan tawa
Kilasan kilasan air mata
Tetapi itu semua indah dalam pikiranku
Kakiku sudah tak mampu untuk berdiri..
Aku ingin duduk di sudut ini..
Sendiri........














Senin, 12 Mei 2014

The Strangers Al Ghuroba : kembali kepada sunnah

The Stranger Al Ghuroba : kembali kepada sunnah
Hidayah itu menyapa jika kau buka jendela 

Hari ini dapet cerita dari suami sesudah pengajian di Blok M Square. Tema kajian ini adalah " Siapa yang tak suka musik??

Tentu yang dibahas bukan " suka musik". Tapi kisah kisah mantan pemusik yang kembali kepada agama yang hanif ini.... ( siap siap tisue, sampe berderai derai deh)

Ada rasa haru, rasa biru, rasa sedih, rasa senang, gembira, ta'jub,  Subhanallah.......
Apabila hidayah Allah menyapa, maka sebanyak apapun tato ditubuh yang dipunya, ternyata badan yang mirip preman pun bisa jatuh terkulai, tunduk dibawah hidayah Allah Subhanahu Wata'ala.......

Banyak orang yang mengenal band band ini, Banyak anak muda yang menggilai, meng-idolai kepiawaian mereka bermusik, mereka EXIST dengan musik. Mereka happy, mereka main musik. Mereka sedih, mereka main musik. Salah satu Quote yang pernah aku baca , dalam aliran pemusik, apapun yang terjadi, entah senang, entah galau, jadikan kondisi itu bermanfaat ( menjadi produktif) yaitu dengan bermusik --> jadi akan tetap menhasilkan pundi pundi material.

Diantara gemerlapnya hidup, hinggar binggar alunan musik, ternyata ada jiwa yang gersang. Ternyata hidup hanya berputar dan tidak memberikan rasa kenyang. Tidak membasahi jiwa yang kehausan. Ada rasa tidak puas. Ada rasa yang hampa. Ada rasa yang kosong dalam hidup.

Sekencang suara di lontarkan!!!! Sekeras terompet dibunyikan !! Sekuat tenaga menabuh drum!! Ada rasa yang kosong. Jiwa melayang layang tak tentu arah. Kembali , semakin lebih kencang, lebih keras, semakin membuat huru hara guna melampiaskan rasa yang tak menentu........

Tidak puas......tidak puass... dan tidak puas...... Tetapi jiwa semakin lelah... mengejar sesuatu dengan tidak terarah.... Tidak tahu mengejar kepuasan yang seperti bagaimana....

Lemah sudah jiwa dan raga....Hidup ternyata melelahkan....Ketika akhirnya hidayah itu menyapa...Ada rasa haru disana. Tubuh tak mampu berbuat apa apa. Air mata penyesalan mengalir deras...Aku telah salah melangkah selama ini. Aku salah. Semua keasyikan itu, semua kesenangan itu, semua popularitas dan adrenalin yang mengalir itu ternyata tidak nikmat....tidak menyenangkan.. tidak memuaskan

Air mata yang mengalir hangat, meleleh perlahan demi perlahan ....sungguh sangat mendamaikan. Ada pujian lirih tersampaikan....kepada Robb Yang telah mengingatkan, mengisi dengan bait bait Firman Nya, mengingatkan... mendamaikan...menyanyangi..memberikan hidayah Nya kepada seorang manusia yang sedang mencari kebenaran... mencari tujuan hidup...mempertanyakan  " untuk apa aku dihidupkan"


Allahu Akbar....Allahu Akbar telah sesat aku...telah sesat aku... Robbigh firlii....Robbigh firlii....Ya Allah Yang Maha Pengampun... Ampuni aku...Ampuni aku...ampuni kesalahanku.... Hamba Mu telah salah melangkah. HambaMu telah sesat...tiada kata selain ampuni aku ya Allah.....Ampuni aku...

Maka ketika hidayah Nya menyapa, tiada yang dapat menghalanginya....Tangisan ini sangat nikmat.. sangat menyenangkan...sangat mengharukan...Emosi ini mengisi semua sel sel dalam tubuh...mengalir bersama darah keseluruh penjuru jasad ini..sambil berpikir inilah iman.. ada suka..ada gembira..tetapi ada pula penyesalan yang dalam.

Gembira karena Allah maha pemberi hidayah, Allah berikan peringatan dengan kelembutannya, Allah masih sayang pada hamba yang telah banyak berbuat salah..bersyukur telah dipilih oleh Allah ...bersyukur....sangat bersyukur...

Robbanaa laa tuzigh qulubanaa ba'da idh hadaitana.wahablanaa milladunka rohmatan..innaka antal wahhab
Untaian doa ini terus menerus dilafadzkan....sebagai ungkapan rasa syukur bahwa diri telah kembali kepada jalan Allah, sebagai rasa syukur tidak disesatkan, dan sebagai pengharapan untuk terus diistiqomahkan menempuh jalan ini, jangan ambil hidayah yang telah menerangi hati ini, menyejukkan jiwa ini, menenangkan jiwa ini..

Ya Allah jangan palingkan dari kebenaran

Hidayah



The Strangers Al Ghuroba : saat itu kami tidak tahu






ps : gambar dengan label The Strangers  milik https://www.facebook.com/profile.php?id=100008163881042&ref=ts&fref=ts

Kisah diatas bukan berdasar pengakuan  The Strangers.




Senin, 05 Mei 2014

Rintik Hujan......











Pingin nyelametin gambar gambar yang deras rinai hujannya. In my deep inside my heart hujan selalu menyenangkan, membuat dingin, nyaman, dan orang ga akan tahu kalo aku sedang nangis bombay, ha ha ha













" rain true relief the pain, it swept your tears away "




Hujan mengingatku pad usia 5, 6 tahunan jaman dahuuuuluu kala. Aku tinggal di sebuah desa di Bangun Harjo, Sewon , Bantul di Jogjakarta tercinta, Indonesia Raya.
Pada waktu itu, aku tinggal dirumah yang luassssss sekali. Rumah dengan 3 buah joglo yang dijadikan satu. Joglo depan adalah ruang tamu.
Joglo tengah adalah ruang keluarga dengan kamar kamar tidur. Joglo belakang adalah ruang makan dan ada dapur terpisah dibelakang.

Ughhhhh, dapurku, dalam bahasa Jawa disebut Pawon. Kami memakai tungku kayu atau keren ( bukan keren, tapi e pepet).Setiap pagi dan sore ibuku masak di dapur ini. Dan aku tentu saja membantu ( membantu matiin apinya, ha ha ha, maksudnya sih niup niup api, trus nambahin kayu yang baru, tapi ndilalah selalu membuat tungkunya malah mati ??) Kalo dah gitu, simbok langsung ambil semprong ( bambu kecil untuk niup api), wush wush nyalaaa deh kerennya, duh duh duh hal kecil aja malah ngerepotin yaaaa...
Indahnya masa kecilllllllku, Robbbighfirliiii waliwalidayya warhamhumaa kamaa robbayani soghiroo.......

Ibuku eh simbok biasanya masak sayur sop atau di Jawa namanya " jangan bening", tempe goreng rit, sambel. Itu makanan udah uueennaakkk banget. 'Jangan bening " ini seperti sayur sop bening. Wortel rebus kecil kecil, daun kol/ kubis, daun bawang/ loncang sledri, garam gula ( gula selalu ada dalam semuaaa masakan, dominan manis, makanya aku juga jadi anak yang manis muah muahh). Begitu mateng, taburin bawang merah bawang putih yang udah diroreng, uhhhh enak.
Terus temennya tempe goreng daun yang segitiga, di garit garit , celup ke bawang putih dan garem yang diuleg, goreng garing.....yummm
Sambel jangan lupa.
Tapi ini hanya makanan masa lalu. Aku ga bisa masak yang kayak gini, Meskipun simpel tapi tenyata aku ga bisa. Dan tempe sekarang beda dengan yang dulu.Atau mungkin tempe Jakarta asem dan bulir bulir kedelainya beda dengan tempe kampung.

Ya, aku kangen dengan rasa itu, rasa amann, kenyang, tenang.......atau mungkin karena aku anak anak jadi yang nyamannnn terus, beda dong dengan jadi dewasa ( jadi tua maksudnya...)

Balik lagi ke rumah Di ruang tengah, pusat area konsolidasi kehidupan bermasyarakat, adalah ruang yang luasss, hanya disekat dengan tabir ( kiswah??) kami menyebutnya...... lupa, saking jadulnya. Diruang ini ada 4 buah soko/ tonggak / tiang penyangga. Dimalam hari disini tempat berkumpul untuk membuat es lilis, dengan aroma frombosen, warnanya merah kayak wedang secang. Hmmm wangi frambosen. Yang besar besar asyik masukkin es ke dalam plastik, sedangkan aku akan melubangi plastik dengan gigi dan kemudian berkata ya.... plastike bolong, ha ha ha ha . Dulu senenggg sekali bisa usil seperti itu. Kebayang kalo itu adalah aku, dan yang usil adalah anak anakku.???!!! Kok dulu aku ga dimarahin ya, usil begitu ??tanya kenapa?

Dulu, di ruangan ini banyak pintunya. Ada pintu keluar dengan daun pintu yang tinggi dan besar. Jendela jendela kayu. Hmmm nikmatnya. Lebih nikmat lagi kalo hujan. Hujan jaman dulu menurutku beda dengan hujan jaman sekarang. Hujan jaman dulu lebih dingin, enak, ga bikin sakit, dannnn rumahku bocor di sana sini. Banyak ember dan kaleng untuk nadahin hujan. Enak, bunyinya ritmik, tek tek tek tek, ... ning ning ning ...tes tes tes tes....seru.....ohhh kangennn.














To The Point aja!!!!!!!!!






Mengingatkan pada diri sendiri, inget , Begini caranya ngadepin laki laki :

 " Sebaiknya wanita langsung saja berkata mengenai apa maunya…karena seringkali wanita meminta suaminya menjadi ibarat "mind-reader" atau "demand-guesser"…yang artinya wanita meminta suaminya tahu dan bisa menebak dengan pasti apa maunya; perasaannya; kenapa dia jadi ngambek dan lain sebagainya. "

Padahal, sadar tidak ya…kalau kebanyakan antena suami itu lemah lagi pendek dalam menangkap sinyal yang begituan. Walhasil proses decoding/ menterjemahkan sandi yang terdapat dalam sinyal tersebut kurang berjalan mulus atau bahkan gagal sama sekali. Lha, nanti kalau mendapati suaminya tidak bisa seperti yang dia harapkan, malah si wanita ini jadi tambah uring-uringan; kesal; jengkel; sebel; ngambek. Betul atau benar?


 
 
 https://www.facebook.com/ummuyazid.fa?fref=ts


Pernikahan itu.......





Pernikahan itu sesuatu yang aku belum pahami.....
Pernikahan itu pada mulanya adalah menyatukan dua kepala yang berbeda
Sedangkan dua kepala ini berawal dan berasal dari dunia yang berbeda
Dunia ku tidak sama dengan duanianya
Bahasa dalam duniaku berbeda dengan bahasa dunianya
Dalam duniaku, diam bermakan " beri aku waktu untuk memikirkannya....
Beri aku dorongan untuk melihat seperti apa pilihan jalan keluar dari masalah yang ada
Diam berarti " i need help to figure it...."
Then mari kita bicara...
Dalam dunia ngomel lebih baik, karena akan terlihat apa yang ada dalam pikiranku
Terlihat bagaimana aku memandang suatu masalah
Maka kemudian akan bisa kau beri masukan, kau luruskan, kau sempurnakan
Terkadang kami memang butuh waktu untuk berlatih adu pendapat
Kami perlu untuk mengasah kemampuan berpikir sehingga lebih bijak dalam melangkah
Yaa, kami memang besar dengan pola yang berperasaan....
Ketika rasa itu membuat kami bersedih,
Ketika rasa itu mendominasi untuk berpikir,,,
Ketika rasa itu kemudian membuat kami memilih...
Kami perlu sesuatu untuk menjadi tambatan...
Kami ingin berpengangan terhadap sesuatu yang kokoh...
Kami ingin kekuatan..
Kami ingin terlindung

Tentunya ini sama sekali berbeda dengan kalian
Atau mungkin malah memberikan ruang bagi kalian untuk berarti pada kami
Menjadi penopang..
Atau kemudian malah akhirnya kami yang lebih kuat untuk berjalan, karena kami memaksa diri untuk harus kuat bertahan, harus sampai di ujung jalan dengan tetap hidup..
Menepis keraguan atas kemampuan diri untuk selamat
Pada akhirnya...

Sungguh, ada semua rasa di dalam ruang dada yang sempit
Ada semua cerita yang bisa tertampung
Dang sungguh, kami sangat suka untuk disapa, mari.... ambil  tanganku, aku bantu melewatinya

Minggu, 04 Mei 2014

Ketika harus memilih......






H ehe hehehe sepertinya edisi melowww

‘Andai Aku Tidak Menikah Dengannya’

ini punya temen dari sini,
http://aisyafra.wordpress.com/2014/01/31/seperti-gelas-gelas-kaca-dari-kajian-andai-aku-tidak-menikah-dengannya/#more-9254

Maka berlemah lembutlah wahai pria, kepada para wanitamu.. Terutama kepada istrimu di rumah yang senantiasa setia mendampingimu mengayuh biduk rumah tangga. Baik di arus tenang maupun kencang dalam kehidupan. Karena mereka menikah denganmu, untuk mendapatkan sakinah dalam hidupnya. Karena mereka adalah pelengkap sebelah sisimu, pecahan dan bagian dari dirimu.
Karena mereka adalah kekasihmu …..
Dikisahkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah dalam suatu perjalanan, sementara seorang hamba sahayanya bernama Anjasyah mengawal para wanita. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun bersabda kepada Anjasyah:
رُوَيْدَكَ يَا أَنْجَشَةُ سَوْقَكَ بِالْقَوَارِيرِ
“Pelan-pelanlah wahai Anjasyah, karena kamu tengah mengawal sesuatu yang mudah pecah.” (HR. Bukhari)
Abu Qilabah mengatakan; maksudnya adalah (mengawal) para wanita.”
Demikianlah perhatian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan perintahnya untuk memperlakukan wanita dengan lemah lembut. *)



Ada Diam Yang Perlu Kau Dengarkan

http://aisyafra.wordpress.com/2014/02/28/ada-diam-yang-perlu-kau-dengarkan/#comment-1417


Diamnya seorang perempuan,
sesungguhnya adalah tangisan atas kesedihan terbesarnya.
Lelakiku,
ada beberapa hal yang perlu kau tahu,
tentang aku,
tentang rasa yang mungkin telah kau coba cari tahu.

Pada banyak hal,
akan kau lihat aku berlaku seperti anak kecil,
berlari-lari kecil,
ingin ini-itu,
dari hal sederhana
sampai hal yang mungkin kau pikir rumit adanya.
Pada banyak hal lainnya,
akan kau dapati aku,
tersenyum malu-malu,
berharap kau tahu apa mauku,
tanpa perlu kuberi tahu
Namun katamu, ‘Aku bukan peramal hatimu, sungguh’
Lalu,
pada sebagian hal kecil,
aku sangat mungkin akan terdiam,
menutup mulutku rapat-rapat,
mungkin kau akan bertanya-tanya mengapa,
mungkin aku masih saja dengan misteriku,
dan meninggalkan seribu tanda tanya bagimu.
Lelakiku,
ada diam yang perlu kau dengarkan,
ada keluh yang perlu kau lihat dengan perasaan,
ada kecewa yang perlu kau rasa dengan sentuhan,
ada jiwa yang perlu kau bagi dengan semua perhatian.
Aku hanya ingin kau tahu,
terkadang diamku adalah rasa yang teramat dalam,
yang tak dapat kukendalikan.
Dan jika kau masih tak tahu harus apa,
peluk saja aku,
sampai mereda semua rasa itu.
Jakarta, 10 Mei 2012