Hanya bertanya pada diri dan kenyataan, apakah salah kalo Bunda kerja. Sedangkan dia dirumah bersama anak, kerja di rumah sebagaiman orang orang yang kerja dari rumah.
Ternyata tidak mudah, karena dia menjadi " melihat " anak anak. Mungkin banyak anak tidak memahami bahwa meskipun dirumah, orang tuanya sedang bekerja. ( Bahkan aku tidak memahami bahwa dia bekerja di depan komputer dengan salah satu fesbuk window menyala, kerja atau fesbukan??)
Sehingga pada akhirnya anak merepotkan orang tua, mereka pikir itu sedang main main, jadi pingin interupsi untuk menonton you tub yang dia sukai.
Ya, komputer on artinya bisa nonton , bisa main game, sehingga yang berkepentingan malah ga bisa bekerja, hi jack by kids.
It Means, i am the one who should be with them in syar'i way, while iam as working women.
Confused me so muchhhhhh. Did not as confuse but i hurt deeply, hu hu hu
Gimana ini, bukan ga mau, tapi sejak awal dah working, i do contribute, all my paid to family,
I have mom in law and a maid. Yes my sons ga mau di rumah maid, then i still have my MIL. But, keep feel blame because of me working. huuuu huuuu i desperadooooooooo
Tampilkan postingan dengan label Full time mom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Full time mom. Tampilkan semua postingan
Jumat, 02 Mei 2014
Kamis, 01 Mei 2014
Full Time Mom
Full Time Mom
Stay At Home Mom
Managing Director of Home Enterprise
Ibuku.....
This is the way iam
Young, single, kesana kemari



Then got married
pregnant
3 boys
hu hu hu pingin dirumah dan SAHM, tapi kok selama bertahun tahun bekerja, dapet uang sendiri, ga tergantung sama siapapun. Berani in any occasion, tangguh, dll.... yang artinya kuat dan mandiri baik secara mental, sporitual, financial.
tapi kok ya banyak yang terabaikan kalo bekerja di luar rumah.
Anak, he he he meskipun i have verry pleasent mom.....
uhhhhhh gimana galau ini berakhir......
ntar dulu baca baca dulu yokkkkk
Stay At Home Mom
Managing Director of Home Enterprise
Ibuku.....
This is the way iam
Young, single, kesana kemari



Then got married
pregnant
3 boys
hu hu hu pingin dirumah dan SAHM, tapi kok selama bertahun tahun bekerja, dapet uang sendiri, ga tergantung sama siapapun. Berani in any occasion, tangguh, dll.... yang artinya kuat dan mandiri baik secara mental, sporitual, financial.
tapi kok ya banyak yang terabaikan kalo bekerja di luar rumah.
Anak, he he he meskipun i have verry pleasent mom.....
uhhhhhh gimana galau ini berakhir......
ntar dulu baca baca dulu yokkkkk
Label:
Full time mom
Senin, 25 November 2013
Mencari teman yang hilang
kopass dari Merajut Untaian Hikmah, daftar bacaan yang dulu sering di tengokin karena bisa menjadi obat kangen, bercerita ttg kehidupan , berusaha memegang apa yang menjadi sesuatu yang dipercaya, diperjuangkan.
kangeenn dengan status yang dulu.
Genggam Hidayah Itu Dengan Erat
>> Monday, October 21, 2013
Copy paste dari tulisan mbak Uwie Aazmara di FB
-----------------------------------------------------------
Oleh: ~Ummu
Abdurrahman
Belajar ilmu agama
ini adalah hal yang baru dalam hidup saya (dan suami). Sebelumnya, urusan
kehidupan kami ya melulu seperti bagaimana orang pada umumnya; kuliah, kerja,
menikah, memiliki anak, semua ukurannya adalah dunia.
Solat ya solat,
ngaji ya ngaji tapi hati tetap disibukkan urusan dunia. Nggak tau apa maknanya
cinta karena Allah, apalagi nikmatnya berdua-dua dengan Allah. Nggak tahu
dimana ya nikmatnya kala itu.
Waktu itu berpandangan bahwa sukses itu adalah ketika menikah, memiliki anak, tinggal dirumah yang nyaman, punya pekerjaan tetap, kendaraan yang nyaman, itu pasti sudah dipandang sukses menurut ukuran mayoritas kebanyakan manusia, semua harus serba terjamin.
Mendidik anak pun begitu, taunya yg terbaik ya ilmu dari barat. Yang jadi panutan mulai dari kehamilan, persalinan, sampe psikologis anak ya semua mengambil ilmu dari barat.
Waktu itu berpandangan bahwa sukses itu adalah ketika menikah, memiliki anak, tinggal dirumah yang nyaman, punya pekerjaan tetap, kendaraan yang nyaman, itu pasti sudah dipandang sukses menurut ukuran mayoritas kebanyakan manusia, semua harus serba terjamin.
Mendidik anak pun begitu, taunya yg terbaik ya ilmu dari barat. Yang jadi panutan mulai dari kehamilan, persalinan, sampe psikologis anak ya semua mengambil ilmu dari barat.
~
Dan semua berubah seketika ketika ujian itu datang.
Alhamdulillah masih diberi kesempatan merasakan nikmat imam dan islam atas
pertolonganNya...
~
Dunia ini baru untuk kami, merubah segalanya sesuai
dengan yang Alloh ridho. Meninggalkan kebiasaan yang kita sukai yang tidak
bermanfaat. Hijrah meninggalkan lingkungan dan teman teman kami
sebelumnya, yang subhanallah...
Semua yang telah kami tinggalkan karena
Allah, walau tertatih awalnya, namun semua diganti oleh Allah. Diberi
kemudahan meninggalkan hal-hal yg tidak bermanfaat.
Bagaimana tidak, dulu rasanya tak mungkin lepas dari nyanyi dan lagu. Bertahun tahun dekat dengan dunia itu, bercampur baur laki-laki dan perempuan dan segala bentuk maksiat lainnya yang waktu itu rasanya biasa aja (merasa tidak ada yang salah dengan yang diri perbuat).
Bagaimana tidak, dulu rasanya tak mungkin lepas dari nyanyi dan lagu. Bertahun tahun dekat dengan dunia itu, bercampur baur laki-laki dan perempuan dan segala bentuk maksiat lainnya yang waktu itu rasanya biasa aja (merasa tidak ada yang salah dengan yang diri perbuat).
Tp ketika tau, ternyata Allah tidak ridho dengan semua itu, dengan azzam tekad yang kuat ternyata Allah mudahkan...
Teman pun begitu, langsung diganti dengan kawan kawan
yang baru, yang baru mengenalnya rasanya sudah seperti kenal lama. Modalnya
hanya yakin sama janji Allah!
Banyak hal baru yang saya dapat di dunia baru saya,
melihat pemandangan yang jauuuh sekali dari yang sebelumnya yang pernah saya
lihat. Bagaimana seorang wanita menjaga dirinya, tidak mau menyapa (memandang
saja tidak) dengan lawan jenis. Saking jauhnya saya akan ilmu waktu itu sampe
saya bilang "Ada ya ternyata kehidupan kayak begini dijaman begini.“
Lihat anak anak kecil terbiasa dengan jilbab
lebar uminya, yang saya pikir sebelumnya, punya bayi ga ribet apa ya pake baju
begitu...
Dan berbagai macam pemandangan baru bagi saya. Dan saya
mulai membiasakan diri dengan itu. Niat kami hanya mencari ridho Allah...
Bagaimana ikhwan akhwat dan anak-anak kecil mencatat
kajian dengan bahasa arab. Anak-anak kecil dengan tingkah pola mereka
yang kadang bikin geregetan, tapi perbincangan mereka adalah tentang bacaan
surat syaikh ini ulama itu dsb...
Anak-anak kecil usia kelas 1-2 SD dengan tingkah polahnya
namun ketika ditanya hadits ini dan itu bisa menjawab sempurna dengan bahasa
arabnya, mumtazzz...
Anak anak usia remaja yang aktif berebut menjawab ketika
ada pertanyaan melanjutkan hadits atau ayat. Belum lagi seorang bapak yang
sudah tua masih semangat membagi bagikan artikel berisi hadits atau ayat yang
ditulis tangannya sendiri di kertas lalu dibagi bagi pada ikhwan lain (setiap
hari beliau lakukan).
Ketika di dauroh 10 hari terakhir ramadhan, ada seorang
kakek berumur 80 tahun solat malam berjamaah dengan imam bacaan yang
panjang, ruku' yang panjang dan sujud yang panjang yang dilakulan mulai jam 12
malam hingga waktu sahur, kurang lebih 3 jam dilakukan dengan berdiri
tanpa bantuan kursi dari awal hingga akhir.
Dan yang paling bikin jatuh hati adalah akhlak mereka
semua, masya Allah, tidak nampak tanda-tanda mana si miskin dan si kaya walau
terakhir saya tau ada beberapa pengusaha ini dan itu, atau profesi ini dan itu,
atau yang hanya berjualan ini dan itu. Semua tawadhu, tawadhu dengan kaya dan miskinnya.
Belum lagi kisah-kisah hijrah mereka, ada mantan GM bank
ternama yang hijrah setelah tau hukumnya. Ada mantan kyai golongan tertentu dan
banyak kisah lain yang membuat semakin bersyukur bisa mengenal islam yang haq.
Ada kawan karib sebelumnya bekerja di perusahaan
kontraktor ternama dengan gaji dan fasilitas yang lebih dari
cukup memilih berhenti dan membuka usaha jual susu kedelai dan gorengan. Bukan
mengharamkan pekerjaan sebelumnya, namun takut tidak bisa menjaga solat wajibnya
di masjid. Dia lebih memilih berhati hati menjaga diri dan keluarganya dari
harta yang syubhat dan menghindari campur baur antara lelaki dan perempuan.
Dibalik jilbab jilbab lebar itu banyak mantan wanita
karir berpendidikan tinggi dari universitas terkemuka memilih meletakkan ijazahnya
menjadi ibu rumah tangga memurojaah anak anaknya bacaan alquran dirumahnya. Ada pula wanita karir Yang
tadinya manager HRD perusahaan pertambangan asing berhenti bekerja ketika mulai
mengenal manhaj ini.
Ada juga yang anak mantan bupati sama sekaki
tidak mau sepeser pun menerima fasilitas ayahnya, lebih memilih berjualan dan
hidup seadannya(dan alhamdulillah ayahnya kini mulai ikut belajar islam yang
haq...).
Begitulah jika sudah merasakan manisnya iman, lebih
menikmati menangis meminta dihadapan allah di sepertiga malam terakhir
dibanding menikmati fasilitas dengan gaji yang besar namun menjadikannya susah
solat berjamaah di masjid. Karena ketakutan mereka, karena kehati hatian
mereka menjaga diri, agama dan harta mereka...
Dan dunia yang mereka tinggalkan karena Allah...pada
akhirnya dunia mendatangi mereka dalam keadaan hina...
Dijadikan cukup dan terpenuhi segala
kebutuhannya oleh Allah...
Semua punya kisah sendiri, punya perjuangan sendiri baik
dari kerabat, kawan dan lingkungan sekitar yang melihat perubahan mereka.
Ya Allah, banyak hal yang menampar saya... Serasa
-kemana aja wahai diri selama ini, lihatlah di sana sudah banyak yg bersemangat
demi mengejar surgaNya, sedang diri masih santai santai namun mengharap
surgaNya? Diri masih sibuk mencari kenyamanan hidup...Bukankah surga itu dilelilingi
oleh hal hal yang tidak disukai? Benar
benar membuka mata saya, membuat saya semakin jatuh cinta untuk terus
mempelajari ilmuNya...
Sesungguhnya
seseorang itu akan bersama dengan yang ia cintai kelak di hari kiamat. Maka cintailah Alloh dan rasulNya. cintailah sahabat nabipara
tabiin dan tabiut,
cintailah ulama, cintailah orang orang soleh yang
bisa menyelamatkan kelak di akhirat. Cintailah... melebihi kecintaan kita
terhadap pasangan hidup kita atau anak apalagi harta kita. Jangan cintai orang
orang yang kelak kita takut dan lari menjauh darinya di hari kiamat karena
takut dimintai pertanggung-jawaban atasnya.
Ya Allah, jadikan
aku termasuk golongan orang orang soleh yang kau wafatkan dalam keadaan
islam...
Hanya diri kita
yang bisa menilai sudah kenalkah kita dengan yang menciptakan kita, sudah
taukah tujuan kita diciptakan, sejauh apa usaha kita mencari ridhoNya. Sudah
kenalkah kita dengan nabi kita…
Ketika kita masih
merasa nyaman memandang sesuatu yang haram
Ketika kita masih merasa biasa biasa saja ngobrol ikhtilat dengan
lawan jenis
Ketika hati tidak merasa sakit melihat
kemunkaran
Ketika diri masi nikmat mendengar alunan
musik dan lagu
ketika hati tidak gelisah ketika melihat tayangan di
televisi yang penuh syahwat
Ketik hati "ah beragama yang biasa biasa saja..yang
penting hatinya baik.."Ketika hati merasa biasa ketika belum bisa
meninggalkan larangannya....Sungguh ....itulah musibah terbesar dari Allah
taala
Berupa matinya hati, sakitnya hati, kerasnya hati
dari menerima kebenaran… itulah istidraj, pembiaran dari Allah supaya kelak
semakin berat siksanya.
Allah bersumpah…
Sumpah Allah yang
terbanyak 11x di surat Asy Syams. Sumpah terbanyak Alloh untuk menegaskan
"Sungguh beruntung orang orang yang mensucikan jiwanya", itulah
langkah pertama untuk taubat, yaitu tazkiyatun
nafs atau mensucikan hati baru diiringi memperbaiki amalan lainnya...
Semoga kita
termasuk didalamnya...
Memang berat
meninggalkan kebiasaan yang kita sukai tapi yakinlah, haqul yakin Allah ganti
semua. Tidak ada kata terlambat untuk
bertaubat selama belum datang sakaratul maut.
Insyaa Allah, Allah
masi membuka pintu taubat.
Carilah, mintalah
hidayah kepada Allah karena hidayah itu harus dicari bukan hanya diam menunggu
ia datang. Dan jika hidayah sudah menyapamu, genggamlah ia dengan
erat.
Kebahagiaan itu
hanya ada dengan ketaatan kepada Allah...
Berbahagialah, meski pernah berbuat dosa, Aamiin.
Label:
Enlighting,
Full time mom
Jumat, 13 Januari 2012
SUAMI ITU …?
Bismillah..
Semoga bisa diambil manfaatnya oleh saudari-saudari muslimahku..
(KISAH)
Sore itu„ menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar.. seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk disampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu. “anty sudah menikah?”. “Belum mbak”, jawabku. Kemudian akhwat itu .bertanya lagi “kenapa?” hanya bisa ku jawab dengan senyuman.. ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.
“mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya. “nunggu suami” jawabnya. Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya
“mbak kerja dimana?”, ntahlah keyakinan apa yg meyakiniku bahwa mbak ini seorang pekerja, padahal setahu ku, akhwat2 seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.
“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” , jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.
“kenapa?” tanyaku lagi.
Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah cara satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.
Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya trsenyum.
Ukhty, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat.
“saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya.
Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Saya capek sekali ukhty. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing. Dan parahnya saya juga lagi pusing . Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata, “abi,umi pusing nih, ambil sendiri lah”.
Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga. Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi deman, tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk diluar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya.”
Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuta hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yg di usapnya.
“anty tau berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700rb/bulan. 10x lipat dari gaji saya. Dan malam itu saya benar-benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya, dan setiap kali memberikan hasil jualannya , ia selalu berkata “umi„ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah2an umi ridho”, begitu katanya. Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya”, lanjutnya
“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu begitu susah menjaga harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelehkan suami.” Lantutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.
“beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua, dan saudara-saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja . Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.”
Aku masih terdiam, bisu, mendengar keluh kesahnya. Subhanallah„apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.
“kak, kita itu harus memikirkan masa depan. Kita kerja juga untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini besar. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah. Salah kakak juga sih, kalo ma jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.
“anty tau, saya hanya bisa nangis saat itu. Saya menangis bukan Karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya. Bagaimana mungkin dia maremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membanguni saya untuk sujud dimalam hari. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan. Baigaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah dihadapnnya hanya karena sebuah pekerjaaan. Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya. Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. Saya bangga ukhti dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu. Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tapi lihatlah suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya. Semoga jika anty mendapatkan suami seperti saya, anty tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anty pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku. Mengambil tas laptonya„ bergegas ingin meninggalkannku. Kulihat dari kejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, meninggalkannku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.
Ya Allah….
Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling baik dalam hidupku.
Pelajaran yang membuatu menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku..
Subhanallah..
semoga„pekerjaan„ harta tak pernah menghalangimu untuk tidak menerima pinangan dari laki-laki yang baik agamanya.
?????!!!!!!!!
What about me??????
Label:
Full time mom,
inspiration,
islam
Senin, 09 Januari 2012
Langganan:
Postingan (Atom)



