Sabtu, 10 Mei 2014

Akhwat sejati idaman Ikhwan



Alkisah, seorang santri putra sedang bersegera menemui Ustadznya.
Dia bertanya pada sang Ustadz, "Ustadz, tolong ceritakan kepadaku tentang akhwat sejati.."
Sang Ustadz pun tersenyum teduh dan menjawab:
"Akhi, akhwat sejati dilihat tidak semata dari sekedar jilbabnya ataupun jubahnya yang lebar, tetapi juga dari bagaimana ia menjaga pandangan mata (ghadhul bashar), sikap, akhlak, kehormatan dan kemurnian agamanya..
Akhwat sejati tidak dinilai dari kelembutan suaranya semata, tetapi dari lantangnya ia mengatakan kebenaran di hadapan lelaki yang bukan mahramnya, sekalipun kebenaran itu mungkin menyakiti perasaannya sendiri.
Ia, akhwat sejati, tidak bisa kau nilai dari berapa banyak sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya dengan anak-anaknya, keluarga dekatnya, para tetangga, serta orang-orang di sekitarnya.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari bagaimana ia pintar berhias dan memasak masakan yang lezat, tapi bagaimana ia bisa faham dan mengerti selera dan variasi makan keluarganya dan mengerti bagaimana berpenampilan menarik di hadapan suami
Kecerdasan akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa cepat ia meraih gelar sarjana, namun dari kemampuannya mengatur finansial keluarga dan selalu merasa cukup (qonaah) dengan segala pemberian dari sang suami di saat lapang maupun di saat sempit.Jangan pernah kau menilai kecantikan sang akhwat hanya dari wajahnya yang cantik atau penampilan luarnya yang menarik.
Kecantikan akhwat sejati bisa kau lihat dari bagaimana ia tersenyum tulus pada orang-orang yang ia cintai tanpa sebuah pemaksaan.
Komitmen sang akhwat sejati tidak bisa dinilai dari berapa banyak ia menolak lelaki yang mencoba berta’aruf kepadanya, tetapi dari seberapa komitmennya untuk mengatakan,Tidak ada kata CINTA sebelum menikah.
Ingatlah akhi, kekuatan akhwat sejati bukanlah dilihat dari jumlah sabuk hitam yang melingkar di pinggangnya, bukan pula prestasi olahraganya.
Kekuatan akhwat sejati dilihat dari sabarnya ia menghadapi lika-liku kehidupan dunia.
Pemahaman akhwat sejati tentang Al Quran dilihat tidak hanya dari dari berapa banyak ia hafal Al-Quran, tapi lebih kepada pengamalan atas apa yang ia baca dan hafalkan dalam Al Quran dalam kehidupan sehari-harinya."
Jawaban dari sang Ustadz perlahan ia cerna, namun jawaban itu ternyata belum memuaskan rasa ingin tahunya, sehingga sang murid kembali bertanya,
"Ustadz, adakah akhwat yang dapat memenuhi kriteria seperti itu?".
Sang Ustadz yang paham akan rasa ingin tahu muridnya kembali tersenyum teduh dan berkata,
"Akhi, Akhwat-akhwat seperti itu memang ada, tapi amatlah langka.
Sekalipun ada, biasanya mereka memiliki karakter khas atau ciri-ciri antara lain;
Mereka sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya, serta tidak lepas dari memberikan kebaikan, setidaknya pada lingkungannya sendiri.
Ia tidak ingin dikenal, kecuali diminta atau didesak oleh masyarakat sekitarnya.
Ia berasal dari keturunan orang-orang yang shalih atau shalihat, berasal dari lingkungan yang sangat terpelihara, punya amal ibadah harian, mingguan dan bulanan lebih dari orang-orang kebanyakan.
Hidupnya sederhana namun tetap menarik dan bermanfaat buat orang lain, dikenal sebagai tetangga yang baik hati.
Berbakti terhadap orang tua, hormat kepada yang lebih tua dan sayang terhadap yang lebih muda, disiplin dengan sholat wajibnya, sering berpuasa sunnah dan qiyamullail, dan bisa jadi amalan ibadah terbaiknya disembunyikan dari mata orang-orang yang mengenalnya.
Ia rajin berdzikir dan beristighfar, rajin mendoakan saudara-saudaranya terutama yang sedang dalam keadaan kesulitan atau sedang terdzalimi secara nyata ataupun tersembunyi.
Ia, akhwat sejati, rajin bersilaturahmi dan senantiasa berdedikasi dalam menuntut ilmu.
Akhwat sejati, ia senantiasa menambah dan memperbaiki ilmunya dan menyampaikan semua ilmu yang ia ketahui setelah terlebih dahulu ia mengamalkannya, rajin membaca atau menghafal Al Quran atau hadits dan buku-buku yang bermanfaat, pintar atau kuat hafalannya, sangat selektif soal makanan atau minuman yang dikonsumsi.
Akhwat sejati memiliki perhatian terhadap kebersihan dan sangat disiplin bila bersangkutan dengan bersuci.
Ia terjaga dan senantiasa menjaga diri dari berdua-duaan, tidak memiliki kesenangan terhadap bergunjing pada orang lain.
Bagi akhwat sejati, menjaga pikiran, lisan dan semua perbuatan sehingga terjauhkan dari perbuatan yang sia-sia adalah sebuah kewajiban.
Ia senantiasa menerima keadaan dan pasrah, serta menjaga hatinya dari bersedih hati yang terlarut-larut.
Akhwat sejati pandai menghibur dan pandai menutupi aib atau kekurangan dirinya dan orang-orang yang ia kenal, mudah memaafkan kesalahan atau kekeliruan orang lain tanpa diminta dan tanpa dendam, ringan tangan untuk membantu sesama, mudah berinfaq, ikhlas, jauh dari riya, takabur, dan sifat-sifat tercela."
Jawaban dari sang Ustadz ternyata masih menyisakan rasa penasaran sang murid, sehingga bertanyalah lagi dia kepada Ustadz. “Ustadz, adakah cara untuk mendapatkannya?
Atau setidak-tidaknya bisa mendapatkan seorang akhwat yang mendekati profil akhwat sejati?
Sang Ustadz pun dengan bijak segera menjawabnya:
“Ada, jika antum ingin mendapatkan akhwat sejati dan benar-benar shalihah sebagai teman hidup maka SHALIHKAN DAHULU DIRIMU!!
karena Insya Allah akhwat yang shalihah adalah pada dasarnya juga untuk ikhwan yang shalih...“
Copas dari Yun Ihza

Jalan semut

5 years old : bun aku mau bikin jalan semut ya
.Bunda   : ok deh
Dan hasilnya sepanjang kamar adalah jalan semut yang panjang antar kota antar kamar
Hmmmmmm. ya deh anak pintar

Taman mini Indonesia Indah

Kamis, 08 Mei 2014

Niqoberella

niqobis


niqoberela

Hidup Bersama Seorang Lanjut Usia


Hidup Bersama Seorang Lanjut Usia


Hari ini mendapat pelajaran dari teman, mengenai kehidupannya. Kehidupan yang telah dilaluinya selama hampir kurang 7-8 tahun ini. Kehidupan yang menurutnya memerlukan ekstra kesabaran, ekstra kasih sayang, dan ekstra dukungan.

Ya, teman tercintaku ini hidup bersama seorang lanjut usia. Dalam kehidupan rumahtangga yang sedang ia bangun, terseliplah seorang lanjut usia yang sang kawan  berkewajiban untuk merawatnya.  Seorang lanjut usia ini sudah berumur tujuh puluh tahunan. Beliau telah melewati banyak masa dan kejadian di masa lalu ( bisa jadi beliau ketemu masa penjajahan Belanda, penjajahan Jepang di Indonesia).

Dan memang tidak mudah untuk merawat seorang lanjut usia dalam kehidupan rumahtangga yang baru mulai dibangun. Disaat pasangan baru menikah sedang berusaha untuk memahami karakter masing masing pasangan, sedang berusaha memahami bagaimana membesarkan seorang anak, tetapi disisi lain juga memiliki kewajiban untuk berbakti kepada orang tua.

Tentu ada rasa cemburu, rasa lelah, rasa yang mungkin tidak bisa digambarkan dengan kata kata selain tumpahan air mata.
Ya..ya.. sangat manusia.

Semoga Allah Subhanahu Wata'ala mencurahkan kesabaran kepadamu, memberikan keringanan untukmu melangkah, memudahkanmu untuk dapat selalu tersenyum ceria. Ingatlah, betapa karunia Allah diberikan kepadamu karena engkau masih diberi kesempatan untuk berbakti kepada orang tua. Birrul walidain.

Insya Allah birrul walidain akan memberimu satu tiket kesurga. Tidak semua orang memiliki kesempatan ini, sahabatku sayang.

Semoga diberikan kesabaran.
Shabar digantikan dengan pahala

Ibu, hafalan Qur'anku hilang.....



Ibu, hafalan Qur'anku hilang....

Tadi dapet cerita dari teman deket. Dia cerita tentang anaknya yang di Pondok Pesantren Solo. Lupa namanya, dipinggir jalan besar denkat UNS ( ya iyalah dipinggir jalan besar, kalo di tengah jalan, ketabrak buu)
Anak laki lakinya sedang dalam tahap usia akil balig. Dia bercerita bahwa,

" ibu, hapalan Qur'anku  hilang

ohh, kenapa nak? ga biasa biasanya kan hafalan Qur'an mu jadi hilang ??

" iya, karena  aku sedang suka sama anak perempuan."

Ohhhhh..... deggg dalam pikiranku. Antara melayang, tersanjung, dan kaget!!!!??? Kok mirip sama kisah .....siapa ya, yang menyampaikan keluhan pada gurunya bahwa " aku sulit menghapal dan hafalanku hilang karena melihat betis yang tersingkap... ( perlu dilihat lagi cerita ini, lupa lupa ingat)

Jadi berpikir bahwa :
1. Ini kejadian saat ini, bahwa anak akil balig mengeluhkan  hafalan Qur'an hilang karena melihat gadis cantik.
2. Kejadian ini ternyata bukan di abad ini saja, jaman dahulu juga ada yang mengalaminya.
3. Begitu dahsyatnya sosok dan gambaran seorang wanita, sampai bisa membuat  hafalan Qur'an hilang .
4. Peringatan kepada wanita untuk selalu menjaga auratnya sehingga tidak membuat laki laki menjadi terhasut ( wanita usia baliq )

Jadi inget anak anak bujangku, semoga ketika mereka akil baliq mereka mau bercerita kepadaku tentang apa yang sedang menjadi kerisauan hatinya.

(gambar dari tumblr)